Rabu, 13 Agustus 2014

Orang Yang Banyak Bertanya Bukan Berarti Banyak Bicaranya!!?

Orang Yang Banyak Bertanya Bukan Berarti Banyak Bicaranya!

Sendang, Orang yang banyak bertanya bukan berarti banyak bicaranya, melainkan haus ilmu. Sedang orang yang banyak ngomongnya bukan berarti sedikit ilmunya. Karena kiai yang banyak ilmunya saja itu suka bicara. Bayangkan saja, dalam ceramah pun. Seorang kiai tidak sedikit mengeluarkan kata kata.

Sementara orang yang banyak  bertanya juga bukan berarti sedikit ilmunya. Dari sebab ia banyak bertanya sehingga ia banyak memperoleh ilmu.

Orang yang haus akan ilmu, membuatnya banyak bertanya. Karena konon, bertanya adalah kuncinya ilmu. Semakin ia banyak bertanya semakin banyak pula ilmu yang ia peroleh, dari orang orang yang ia beri pertanyaan. Oleh karena itu, jika ada sesuatu yang belum engkau ketahui, maka bertanyalah.

Sementara, jika engkau ingin mendapat jawaban yang membuatmu puas, maka bertanyalah kepada orang yang engkau anggap orang itu mampu menjawab.

Namun harus kita ketahui. Bukan hanya orang yang punya ilmu saja yang mampu menjawab pertanyaanmu, bahkan orang yang bodoh saja pun mampu menjawab pertanyaanmu.

Jika engkau ingin memperoleh sesuatu yang belum engkau ketahui, atau ingin menanyakan sesuatu. Janganlah engkau bertanya ke asal sesuatu. Artinya asal asal bertanya kepada sesuatu.

Suatu contoh; Jika engkau  bertanya, kepada seekor kucing! mengenai; "Apakah langit itu bisa berbicara bertanya" sih kucing pasti mampu menjawab pertanyaanmu. Namun jawaban kucing pasti "meong". Itulah karakter kucing. Apakah kita puas dengan jawaban sih kucing itu? Tentu tidak. Karena jawaban sih kucing tadi tidak sesuai dengan pertanyaan kita. Sebab kita pun juga tidak bisa mengerti jawaban kucing tadi, yang hanya dengan nada meong.

Oleh sebab itu bertanyalah kepada sesuatu atau orang yang tepat.  Supaya kita puas mendapat jawaban apa yang kita pertanyakan itu. Dan berharap agar memperoleh ilmu yang tepat; sesuai apa yang di inginkan; melalui usaha tersebut.

Penulis: Elang

Kaya Bukan Hanya Karena Rajin Bekerja, dan Miskin Bukan Hanya Karena Malas Bekerja

Kaya Bukan Hanya Karena Rajin Bekerja, dan Miskin Bukan Hanya Karena Malas Bekerja

Sendang: "Disetiap kehidupan manusia itu ada campur tangan Tuhan, baik itu orang miskin maupun yang kaya. Jika Tuhan tidak campur tangan. Lalu bagaimana keadaan hambaNya? Apa bisa orang itu kaya karena sendiri? Orang itu kaya bukan berarti karena ia rajin bekerja. Dan orang yang miskin itu bukan berarti karena ia malas bekerja."

Mengenai "rajin bekerja" bukan hanya orang yang kaya, karena orang yang miskin tidak sedikit yang rajin bekerja. Tapi apa? Orang yang miskin yang rajin bekerja pun tidak membuatnya menjadi orang yang kaya.

Memang sih, secara rasional, bahwa orang itu tergantung bagaimana ia menjalani kehidupannya, atau bagaimana tingkat pekerjaan yang ia lakukan. Ada yang berkata, orang miskin itu biasanya golongan orang yang malas bekerja. Oh tidak bisa!! Jika kita telusuri secara lebih jauh lagi. Mengenai orang miskin bukan berarti orang yang malas bekerja.

Mengenai "malas bekerja" bukan berarti hanya golongan orang yang miskin saja, bahkan orang yang kaya atau orang yang berduit banyak kok yang malas bekerja. Namun itu pun tidak membuatnya menjadi miskin.

Gambaran yang sederhananya. Bayangkan saja! banyak orang kaya yang mempunyai perusahaan; banyak karyawannya. Kerjaan orang yang kaya itu hanya bisa ngatur, nyuruh, sementara dirinya hanya nongkrong. Ini kan juga golongan orang yang malas bekerja. Tapi apa? Meskipun ia malas bekerja. Kerjanya hanya ngatur, nyuruh. Hal itu tidak membuatnya menjadi orang miskin.

Orang yang kaya yang malas bekerja tapi tidak membuatnya miskin, artinya kerjaannya hanya ngatur, nyuruh, bukan berarti karena ia banyak uangnya.

Sementara orang yang miskin yang rajin bekerja, tapi tidak membuatnya menjadi kaya. Bukan berarti karena uangnya sedikit. Karena ia bisa saja menjadi kaya yang memiliki banyak uang. Jika uang dalam setiap harinya ia kumpulkan sedikit demi sedikit, walhasil ia bisa punya banyak uang.

Dari sini kita bisa lihat, bahwa kekayaan itu bukan hanya karena rajin bekerja, dan kemiskinan itu bukan hanya berarti golongan orang yang malas bekerja, yang jelas, kehidupan manusia ada campur tangan Tuhan.

Kesimpulannya, Segala sesuatunya, kondisi, keadaan manusia itu Tuhan lah yang mengatur; takdir atau kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Seandainya; Kalau semua orang itu kaya, kepada siapa ia memberi sodakoh? Kemudian, Kalau semua orang itu miskin, kepada siapa i memperoleh bantuan materi?

Catatan: "Orang itu bisa Kaya karena takdir Tuhan, Orang itu Miskin juga karena takdir Tuhan."

Penulis: Elang